23
Muharram
1435 هـ
 

BENANG MERAH (3) ANTARA YAHUDIYYAH DAN ROFIDHIYYAH (PELECEHAN TERHADAP ALLOH ‘AZZA WA JALLA)

PELECEHAN ROFIDHOH DAN YAHUDI

TERHADAP PENGUASA LANGIT DAN BUMI

Subhaanallohi ‘Ammaa Yashifuun

ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Harits Al-Andalasy Waffaqohulloh

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما كثيرا أما بعد:

Alloh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat yang sempurna yang tidak tercampuri kekurangan sama sekali. Tidak ada keraguan bahwa Musa dan para nabi yang diutus setelahnya ‘Alaihimussalaam, telah menjelaskan perkara ini kepada Bani Isro’il.

Akan tetapi Yahudilah yang sesat dan ingkar serta tidak mengagungkan Alloh sebenar-benarnya.

Demikian juga Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah menerangkan perkara ini sejelas-jelasnya, demikianlah keyakinan para shohabat dan demikian pula keyakinan orang-orang yang berjalan di atas sunnah, Ahlussunnah wal Jama’ah.

Akan tetapi Rofidhohlah yang enggan dan menyimpang serta tidak mengagungkan Alloh sebenar-benarnya.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِه

“Mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang semestinya”. (QS Al-An’am ayat 91, Az-Zumar ayat 67)

Kecocokan kedua kelompok tersebut dalam sisi ini, merupakan materi yang akan kita singgung kali ini. Lanjut…

27
Dhul-Qadah
1434 هـ
 

Hukum Sutroh (Pembatas Sholat)

Bimbingan Rosululloh –Shollallohu’alaihi wa Sallam-
Untuk Sholat Menghadap Sutroh

Ditulis oleh:
Abu Zakaria Irham bin Ahmad Al-Jawiy
-Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa dan kesalahannya-

[
Purworejo, Jum'at, 21 Dzulqo’dah 1434]


بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
من يهد الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له،
وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد:

Yang dimaksud dengan sutroh adalah sesuatu yang diletakkan atau dijadikan oleh seorang yang sholat di hadapannya untuk mencegah orang lain lewat melalui depannya. Hal itu bisa berupa tembok, tiang, tongkat, atau benda-benda lainnya yang memenuhi syarat untuk dijadikan sutroh.

Hukum meletakkan sutroh adalah wajib berdasarkan sabda Nabi –Shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ…..

Janganlah kalian sholat kecuali menghadap ke sutroh, dan janganlah kau biarkan seorangpun lewat di depanmu ketika sholat. [HR. ibnu Huzaimah dengan sanad yang jayyid/ bagus dari ibnu umar]

Hal ini dikarenakan apabila seorang sedang sholat kemudian ada sesuatu lewat di depannya maka sholatnya bisa terputus, sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh –Shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam sabda beliau:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ الْحِمَارُ، وَالْمَرْأَةُ، وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ

“Jika salah seorang diantara kalian sholat, sesungguhnya menghalanginya (dari terputus) jika ada di depannya semacam akhir pelana (yang dijadikan sutroh), apabila tidak ada ada di depannya semacam akhir pelana maka akan memutus sholatnya (jika lewat di depannya): keledai, perempuan, dan anjing hitam.” (HR Muslim: 510, dari abu Dzar)

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa sholat akan terputus (batal) jika salah satu dari tiga hal yang disebutkan dalam hadits tersebut lewat di depan orang yang sholat tidak menghadap sutroh. Hal ini menunjukkan bahwa mengambil sutroh hukumnya wajib. Lanjut…

21
Dhul-Qadah
1434 هـ
 

Hukum Seputar Qurban

PANDUAN LENGKAP IBADAH QURBAN

Ditulis oleh:

Abu Umar Ahmad Rifai bin Mas’ud Al-Jawi

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Ibadah qurban adalah suatu ibadah yang agung yang diperintahkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RosulNya shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah sholat untuk Robbmu dan berqurbanlah (untukNya).” (Qs Al-Kautsar:2)

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadah (qurban)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam.” (Al-An’am:162)

Dan disebutkan dalam hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu di Shohihain :

«ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ»

“Nabi shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam pernah berqurban dengan dua kambing domba berwarna belang hitam putih dan bertanduk.” (muttafaq ‘alaih)

Dan telah dimaklumi bersama bahwa suatu ibadah tentu mempunyai syarat, rukun serta hal-hal yang diwajibkan atau disunnahkan untuk dikerjakan, yang semua itu tentunya telah diterangkan dalam kitab dan sunnah dan dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang berkaitan dengannya.

Pada risalah ini -insyaalloh- akan kami ketengahkan kepada pembaca sekalian -hafidzokumulloh- pembahasan yang kami nukil dari beberapa kitab, di antaranya kitab Syaikhina Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidzohulloh yang khusus membahas masalah ini berjudul: At-Tajliyah Li Ahkamil Hadyi wal Udhiyyah, dan kami lengkapi dengan nukilan dari kitab Fathul ‘Allam Syarh Bulugul Marom yang ditulis oleh syaikhuna Muhammad bin Hizam Al-Ba’dani hafidzohulloh. Kemudian apabila kami dapati pada kedua kitab tersebut nukilan dari ulama maka kami berusaha untuk merujuk kepada kitab aslinya, walaupun dengan perantaraan Makatabah Asy-Syamilah, wallohul muwaffiq. Lanjut…

19
Dhul-Qadah
1434 هـ
 

BENANG MERAH (2) ANTARA YAHUDIYYAH DAN ROFIDHIYYAH (MANIPULASI KITAB SUCI)

KECOCOKAN SYI’AH ROFIDHOH DAN YAHUDI

DALAM MANIPULASI KITAB SUCI

ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Harits Al-Andalasy Waffaqohulloh

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما كثيرا أما بعد:

Setiap agama ataupun keyakinan memiliki dasar yang dipakai sebagai pegangan, baik itu berupa kitab-kitab yang disucikan di sisi mereka ataupun sumber-sumber lain yang mereka agungkan dan kedepankan. Adapun yang kebenaran mutlak hanyalah apa-apa yang berasal dari Alloh dan rosul-Nya.

Karena itulah untuk melihat sebuah pemikiran ataupun keyakinan maka kita mesti menilik sumber-sumber yang menjadi pegangan oleh penganutnya, karena orang-orang belakangan akan mengikuti orang-orang sebelumnya melalui perantaraan sumber-sumber tersebut.

KITAB SUCI YAHUDI DALAM PANDANGAN SYAR’I

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwasanya Dia telah menurunkan Taurat kepada Bani Isro’il dan mewakilkan kepada Ahlul Kitab untuk menjaga Al-Kitab mereka tersebut, Alloh berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”. (QS Al-Ma’idah ayat 44)

Namun apakah Bani Isro’il menjalankan amanah tersebut? Justru sebaliknya, mereka mendustakan apa yang disampaikan oleh para Nabi tersebut jika tidak mencocoki hawa nafsu mereka, dan bahkan mereka sampai menyakiti dan membunuh para utusan Alloh tersebut. Lanjut…

14
Dhul-Qadah
1434 هـ
 

Mengenal Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiry

MENGENAL ‘UBAID AL-JABIRY DAN FATWA-FATWANYA LEWAT TANYA JAWAB

‘Abdulloh bin Imam Ahmad mengatakan: “Abu Turob An-Nakho’i Asy-Syabi datang kepada ayahku. Sementara ayahku berkata: “si Fulan dho’if, si Fulan tsiqoh”. Lantas Abu Turob mengatakan: “Wahai Syaikh, janganlah engkau menggunjingkan para ulama”. Maka ayahku pun menoleh padanya seraya berkata: “Celaka kamu, ini adalah nasehat bukan gunjingan. Kemudian beliau mengatakan: “Apabila engkau diam dan aku pun diam, maka sampai kapan orang yang jahil tahu mana yang shohih dan mana yang dho’if?”. [Bahrud Damm Liman Takallama Fiihil Imam Ahmad bil Madhi wadz Dzamm 8].

 

Alih Bahasa: ‘Abdul Quddus Al-Jawy

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh semata, kita memujinya dan meminta pertolongan kepadanya. Barang siapa yang Alloh beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Alloh sesatkan maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah kecuali Alloh semata yang tiada sekutu bagi baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Saya telah membaca tentang pengumuman tentang dauroh yang akan diselenggarakan di kota ‘Aden, dengan judul “Dauroh Ibnul Qoyyim”, diselenggarakan oleh para pengikut dan pembela Al-Mar’i, yang dimulai dari tanggal 29 Rojab sampai 14 Sya’ban. Adapun pembicaranya -sebagaimana yang mereka sebutkan- adalah ‘Uba’id Al-Jabiri. Maka saya ingin menyebutkan pada beberapa lembaran tipis ini beberapa penyimpangan yang ada pada ‘Ubaid Al-Jabiri yang dengan penyimpangan tersebut menjadikan dia seorang yang tidak pantas untuk di ambil ilmu darinya. Lanjut…

« Arsip Lama


Copyright © 2014 Ahlussunnah Wal Jama'ah Indonesia | أهل السنة والجماعة – الإندونيسية
Darul Hadits Dammaj - Yaman